Kabupaten Banjar – Desa Benua Anyar ST, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, menggelar kegiatan Pra-Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pra-Musrenbang) Desa pada Jumat, 31 Oktober 2025. Acara yang berlangsung di Balai Desa Benua Anyar ST ini dihadiri 33 peserta, menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam merumuskan rencana pembangunan untuk tahun anggaran 2026. Kegiatan ini menjadi tahap penting sebelum Musrenbang tingkat desa yang lebih luas.
Pra-Musrenbang dimulai pukul 09.00 WITA dan berakhir pada pukul 11.30 WITA. Peserta terdiri dari berbagai unsur, yaitu Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pendamping Desa, kelompok Penggerak PKK, Bidan Desa, Kader KPM, Kader Posyandu, serta Ketua Rukun Tetangga (RT). Kehadiran beragam pihak ini mencerminkan semangat inklusif dalam menyusun usulan yang benar-benar sesuai kebutuhan warga.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Benua Anyar ST. Dalam sambutannya, H. Juhrai menekankan pentingnya Pra-Musrenbang sebagai wadah untuk mengidentifikasi prioritas pembangunan di tengah proyeksi keterbatasan anggaran tahun depan. “Setiap usulan harus realistis dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat, baik infrastruktur, kesehatan, pendidikan, maupun pemberdayaan ekonomi,” ujarnya.
Sambutan dilanjutkan oleh Wakil Ketua BPD yang mengapresiasi keterlibatan semua elemen sejak dini. Ia juga mengingatkan agar usulan tetap selaras dengan RPJMDes dan peraturan yang berlaku. Setelah itu, peserta langsung memasuki agenda inti: pendataan usulan rancangan pembangunan tahun 2026.
Diskusi berlangsung hidup. Berbagai masukan bermunculan, mulai dari perbaikan jalan desa, penguatan program Posyandu, kegiatan PKK, hingga dukungan bagi kader KPM dalam pengentasan kemiskinan. Sekretaris Desa mencatat semua poin secara rinci, sementara Pendamping Desa dan peserta lain saling memberikan tanggapan.
Pendamping Desa, Kaspudin menyoroti perlunya penyesuaian usulan dengan kondisi keuangan desa tahun 2026. “Kita harus realistis. Jangan sampai usulan terlalu besar tapi tidak bisa direalisasikan,” tegasnya.
Pendamping Desa lainnya, Andi menambahkan informasi krusial: dana transfer ke desa tahun depan akan dikurangi sesuai regulasi pemerintah pusat dan kebijakan efisiensi anggaran nasional. “Pengurangannya bervariasi, sekitar 100 hingga 200 juta rupiah per desa. Kita harus lebih cermat mengalokasikan dana yang tersisa,” jelas Andi.
Sementara dua Pendamping Desa, Mona Yulianti dan Fauzi juga memberikan masukan spesifik terkait program sosial. Mona menekankan kecukupan dana untuk Posyandu dan PKK, “Kegiatan ini langsung menyentuh ibu dan anak, meski dana terbatas, kita bisa maksimalkan lewat gotong royong.” Sementara Fauzi memperkirakan kegiatan fisik di desa mungkin hanya bisa senilai 50–100 juta rupiah saja. “Prioritaskan yang paling mendesak, seperti perbaikan jalan atau sarana kesehatan dasar,” sarannya.
Setelah dua jam diskusi intensif, beberapa usulan prioritas berhasil dirumuskan untuk dibawa ke Musrenbang desa berikutnya.
Acara ditutup pukul 11.30 WITA dengan doa bersama. Kepala Desa Benua Anyar ST menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi semua pihak. “Ini bukti bahwa Desa Benua Anyar ST siap menghadapi tantangan dengan musyawarah yang solid,” ucapnya.
Pra-Musrenbang Desa Benua Anyar ST tidak hanya menghasilkan daftar usulan, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga. Di tengah ancaman pengurangan dana desa, semangat gotong royong dan skala prioritas menjadi kata kunci. Hasil rapat ini diharapkan menjadi masukan berharga bagi pemerintah kecamatan dan kabupaten dalam menyusun anggaran 2026.
Kegiatan ini membuktikan bahwa partisipasi aktif masyarakat desa mampu menciptakan perencanaan yang inklusif dan berkelanjutan, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran. (MS)